
RADIOPENSIUNAN.COM
HARI Radio Sedunia dicanangkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) setiap tanggal 13 Februari. Tahun 2026 ini peringatan ke-15, mengambil tema, Radio dan Kecerdasan Buatan. Bagaimana teknologi Artificial Intelligence alias AI dipakai dalam proses siaran radio. Apa keuntungan dan masalahnya?
Tanggal 3 Januari 2026 genap tiga tahun usia Radio Pensiunan. Bukan radio besar. Tetapi, berdasarkan catatan Google Analytic, per 13 Februari 2026 terpantau ada 326.180 yang menghidupkan aplikasi Radio Pensiunan, setidaknya, radio ini ada pendengarnya. Mereka ada di berbagai kota atau wilayah dan cukup fanatik sebagai pendengar Radio Pensiunan.
Radio Pensiunan merupakan konsep siaran berbasis internet sehingga tersambung dengan mesin pencari data, seperti google. Karena menggunakan internet maka dimanapun, baik di Indonesia dan mancanegara, siarannya dapat didengar. Berbeda dengan radio konvensional yang menggunakan frekuensi siarannya bersifat lokal.
Karena berbasis internet maka Radio Pensiunan dekat pula dengan teknologi masa kini, termasuk AI. Tetapi apakah AI serta merta digunakan secara total dalam siaran Radio Pensiunan? Tidak. Ada pertimbangan dan perdebatan serius di internal Radio Pensiunan.
Untuk menjalankan siaran 24 jam Radio Pensiunan, pastinya, membutuhkan banyak penyiar. Apalagi jika siarannya merambah belahan dunia jauh sana, waktu siang, sebaliknya di sini malam maka perlu penyiar pada dinihari Waktu Indonesia Barat. Penggunaan AI untuk mengisi jam siaran dinihari menjadi pemikiran. Perdebatan muncul karena banyak yang sepakat, penyiar AI tidak memiliki “greget”.
Dalam suatu kesempatan, uji coba penyiar AI dilakukan di Radio. Generasi baby boomer dan gen X yang ada banyak di Radio Pensiunan sempat terlongo-longo mendapati kepiawaian AI.
Ketik kalimat perintah, misal, buatkan skrip penyiar untuk siaran radio program jazz, durasi dua jam. Dalam tempo tidak sampai dua menit muncul materi kata lengkap dengan judul lagu setiap jeda (break). Pindahkan skrip tersebut ke aplikasi suara munculah audio penyiar tinggal download.
Selanjutnya, rekaman suara penyiar AI masukan ke dalam daftar putar pada aplikasi siaran. Tinggal pergi. Maka radio tetap terdengar seakan ada penyiar sedang siaran. Semudah itu.
AI Sebagai Asisten
Mengganti penyiar radio dari manusia kepada kecerdasan buatan atau robot AI tidak dipungkiri membantu efisiensi operasional. Baik dari segi waktu maupun biaya. Tiga tahun lalu, AI masih mahal, tetapi sekarang relatif mudah dan murah. Masalahnya, sebagai penyiar, AI kesulitan untuk meniru nuansa emosional, humor, dan hubungan yang dibangun oleh penyiar manusia dengan pendengar.
Kelebihan siaran radio adalah sifatnya yang personal seakan penyiar bicara kepada pendengar secara individu. Radio juga menjadi teman setia orang yang sedang bekerja, belajar atau berkendaraan (companion). Ada rasa kedekatan emosional dan interaksi intim antara penyiar dengan pendengar (personal approach). Rasa seperti itu yang tidak didapat jika penyiarnya diserahkan pada AI.
Meskipun tidak pas sebagai pengganti penyiar di radio tetapi AI dapat digunakan sebagai asisten dalam siaran. Misal, saat siaran tiba-tiba penyiar membutuhkan materi siaran, disini AI dengan cepat menyediakannya. Penyiar yang terdengar cerdas menjadi faktor utama seseorang bertahan mendengarkan radio kesayangannya. Begitu surveynya, selain lagu yang enak dan suara siaran jernih.
Kecepatan AI dalam mencarikan jawaban, memverifikasi data untuk membantu keraguan penyiar tidak dipungkiri. Tetapi fakta bahwa AI menghasilkan deepfake dan cerita fiktif juga terjadi. Jadi penggunaan AI ini memunculkan pertanyakan batasan antara bantuan dan manipulasi. Pada kondisi inilah dirasakan, penyiar manusia dalam siaran radio lebih dibutuhkan.
Pengelola Radio Pensiunan bisa dikatakan 80 persen memiliki pengalaman panjang bekerja sebagai jurnalis di media era sebelum ada internet. Semuanya terbiasa dengan chek & rechek, verifikasi, investigasi dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) tetapi tidak menolak penggunaan AI. Sepakat tetap mengedepankan jurnalisme yang beretika.
Baik Buruk AI
Jika dicermati, keuntungan menggunakan penyiar AI adalah efisiensi biaya karena bisa siaran 24 jam dan tidak pernah izin sakit. Robot ini dapat memindai data pendengar untuk menyesuaikan musik, berita, dan iklan dengan preferensi individu sehingga berpotensi meningkatkan retensi pendengar. Dari segi kecepatan dapat menghasilkan, mengedit, dan menerjemahkan konten secara instan karena menguasai berbagai bahasa. Sehingga memungkinkan pembaruan yang lebih cepat pada topik yang sedang tren.
Kelemahan penggunaan AI adalah hilangnya koneksi manusia. Banyak pendengar menyimak siaran radio karena kepribadian, empati, dan kisah-kisah yang dapat dihubungkan langsung oleh penyiar manusia.
Karena AI tidak selalu benar maka penggunaan untuk membuat konten berdasarkan materi yang sedang tren dapat menyebabkan radio menjadi tidak unik. Padahal keunikan ini yang menjadi ciri khas media radio dibanding media lain. Bayangkan, jika semua stasiun radio menggunakan atau menpercayakan pada AI maka siaran menjadi seragam. Belum lagi problem hukum hak cipta karena main comot dan sebagainya.
Pendeknya, dari segi spontanitas penyiar manusia, AI tidak dapat meniru keajaiban tanpa naskah, humor, atau interaksi langsung dengan pendengar. Ini yang menjadi ciri khas banyak acara radio kemudian populer dan sukses.
Pada peringatan Hari Radio Sedunia tahun 2026 ini AI belum mampu menggantikan penyiar manusia. Yang terjadi adalah kolaborasi dimana AI membantu memberikan materi, riset, penjadwalan, menterjemahkan dan lainnya. Selanjutnya penyiar manusia fokus pada penyampaian cerita yang kreatif dan menarik.
Pada situasi dunia tidak menentu, seperti sekarang, peran penyiar sejati di radio yang dapat membuat manusia tetap optimis dan ceria. UNESCO menegaskan lewat Hari Radio Sedunia bahwa media terus berkembang sesuai kebutuhan.***
Eddy Koko – Praktisi Radio Siaran