Pengobatan GERD pada Lansia

RADIOPENSIUNAN.COM

GERD atau gastroesophageal reflux disease merupakan gangguan pencernaan yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus). Kondisi ini dapat dialami oleh siapa saja, termasuk lansia. Pada usia lanjut, perubahan fungsi pencernaan serta adanya kemungkinan penyakit kronis dapat membuat risiko GERD menjadi lebih tinggi.

Selain itu, gejala GERD pada lansia sering kali tidak muncul dalam bentuk yang khas sehingga kondisi ini dapat terlambat dikenali. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab, gejala, faktor risiko, serta cara penanganannya secara tepat dalam artikel berikut.

Penyebab GERD pada Lansia
 

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan yang dapat memengaruhi sistem pencernaan. Perubahan pada fungsi otot, saraf, dan organ pencernaan dapat melemahkan mekanisme alami yang mencegah naiknya asam lambung ke esofagus. Beberapa penyebab GERD pada lansia antara lain:

Melemahnya katup esofagus bawah (lower esophageal sphincter/LES): Katup ini berfungsi menahan isi lambung agar tidak naik kembali ke kerongkongan. Pada lansia, kekuatan otot katup dapat menurun sehingga refluks asam lambung lebih mudah terjadi.

Penurunan peristaltik esofagus: Gerakan peristaltik esofagus membantu mendorong makanan ke lambung sekaligus membersihkan asam yang naik kembali dari lambung. Akibatnya, asam lambung dapat bertahan lebih lama di esofagus dan meningkatkan risiko iritasi.

Penurunan produksi air liur: Air liur berperan menetralkan asam lambung yang naik ke esofagus. Ketika produksinya menurun, kemampuan tubuh untuk melindungi dinding esofagus dari paparan asam juga berkurang.

Gejala GERD pada Lansia
 

Pada lansia, gejala GERD sering kali tidak khas. Gejala khas GERD seperti rasa terbakar di belakang tulang dada (heartburn) yang sering dialami oleh pasien muda juga tidak selalu muncul pada lansia. Pada lansia, gejala yang lebih sering muncul bersifat tidak spesifik (atipikal), seperti:

Kesulitan menelan (disfagia).

Batuk kronis yang tidak jelas penyebabnya.

Suara serak.

Sendawa berlebihan.

Nyeri dada.

Muntah.

Selain itu, pada usia lanjut, sensitivitas terhadap nyeri dapat menurun. Hal ini berkaitan dengan peningkatan pH lambung akibat gastritis atrofi, kondisi yang cukup sering terjadi pada usia lanjut. Akibatnya, gejala GERD pada lansia dapat terasa lebih ringan atau tidak khas, meskipun kerusakan pada esofagus tetap dapat berkembang.

Faktor Risiko GERD pada Lansia
 

Selain perubahan alami akibat penuaan, terdapat berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya GERD pada lansia. Faktor-faktor ini berkaitan dengan kondisi kesehatan, gaya hidup, hingga penggunaan obat-obatan tertentu yang cukup sering ditemukan pada pasien lanjut usia. Beberapa faktor risiko yang mungkin terjadi antara lain:

  1. Obesitas Sentral
     

Obesitas, khususnya yang ditandai dengan penumpukan lemak di area perut atau disebut obesitas sentral, dapat meningkatkan tekanan di dalam rongga perut. Peningkatan tekanan ini dapat mendorong asam lambung naik ke esofagus sehingga memicu terjadinya refluks asam. 

  1. Penggunaan Obat-obatan Tertentu
     

Lansia sering mengonsumsi berbagai obat untuk mengatasi penyakit kronis. Beberapa jenis obat diketahui dapat memengaruhi fungsi katup esofagus atau menyebabkan iritasi pada saluran cerna serta meningkatkan risiko refluks asam. Contoh obat yang dapat meningkatkan risiko GERD antara lain:

Obat-obatan jantung, seperti aspirin, nitrat, dan calcium channel blocker (CCB).

Benzodiazepine.

Antidepresan tertentu.

Beberapa obat antinyeri, seperti antiinflamasi nonsteroid (NSAID).

  1. Komorbiditas Kronis
     

Pada usia lanjut, tidak jarang seseorang memiliki lebih dari satu penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit jantung, atau gangguan saraf. Kondisi medis ini dapat berdampak pada fungsi pencernaan atau memperlambat pengosongan lambung sehingga meningkatkan risiko refluks.

  1. Kondisi Frailty pada Lansia
     

Selain perubahan pada sistem pencernaan, kondisi frailty juga diketahui berperan dalam meningkatkan risiko GERD. Frailty adalah penurunan fungsi tubuh akibat proses penuaan yang biasanya ditandai dengan penurunan massa otot, kelemahan fisik, dan berkurangnya aktivitas sehari-hari.

Diagnosis GERD pada Lansia
 

Proses diagnosis GERD pada lansia biasanya diawali dengan anamnesis, yaitu wawancara medis untuk menggali keluhan, riwayat penyakit, serta pola munculnya gejala. Langkah ini penting karena gejala GERD pada lansia sering tidak khas.

Pemeriksaan gastroskopi dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan selang kecil berkamera melalui mulut untuk melihat kondisi esofagus, lambung, dan usus. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai adanya peradangan pada lapisan dinding esofagus dan lambung atau komplikasinya.

Komplikasi GERD pada Lansia
 

GERD yang berlangsung dalam jangka panjang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, terutama lansia. Kondisi ini dapat terjadi karena paparan asam lambung yang terus-menerus merusak lapisan esofagus. Selain itu, gejala yang sering tidak khas pada lansia dapat membuat diagnosis terlambat sehingga kerusakan jaringan sudah berkembang lebih lanjut. Beberapa komplikasi GERD yang dapat terjadi pada lansia mencakup:

Esofagitis: Paparan asam lambung yang berulang dapat menyebabkan peradangan pada dinding esofagus atau disebut esofagitis. Pada lansia, esofagitis sering ditemukan dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi dibandingkan usia yang lebih muda.

Barrett’s esophagus: Perubahan jaringan pada lapisan esofagus akibat paparan asam lambung dalam jangka panjang. Kondisi ini termasuk lesi prakanker karena dapat meningkatkan risiko berkembangnya kanker esofagus.

Kanker esofagus: Peradangan kronis dan perubahan sel pada esofagus akibat refluks asam yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker esofagus.

Komplikasi ekstraesofageal: GERD juga dapat menimbulkan gangguan di luar saluran cerna, seperti batuk kronis, gangguan pernapasan, atau memburuknya asma akibat refluks asam yang mencapai saluran napas.

Pengobatan GERD pada Lansia
 

Penanganan GERD pada lansia bertujuan untuk mengurangi gejala, mencegah kerusakan esofagus, serta menurunkan risiko komplikasi. Pendekatan pengobatan biasanya dilakukan secara bertahap, mulai dari perubahan gaya hidup hingga terapi medis. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut.

  1. Memperbaiki Gaya Hidup
     

Salah satu langkah penting dalam mengatasi GERD adalah dengan memperbaiki pola makan dan gaya hidup. Perubahan kebiasaan sehari-hari dapat membantu menekan frekuensi refluks asam dan mengurangi keluhan yang dirasakan. Langkah-langkah yang dianjurkan meliputi:

Membatasi makanan yang dapat memicu refluks, seperti makanan sangat asam, pedas, atau berlemak. 

Mengonsumsi makanan tinggi serat. 

Berhenti merokok. 

Menghindari konsumsi alkohol dan kafein. 

Menghindari kebiasaan makan terlalu cepat atau makan dalam porsi berlebihan. 

Meninggikan posisi kepala tempat tidur, misalnya menggunakan bantal khusus atau penyangga dengan sudut sekitar 20 derajat untuk membantu mengurangi refluks saat tidur.

Tidak makan atau minum dalam waktu 2–3 jam sebelum tidur, termasuk sebelum tidur siang yang cukup sering dilakukan oleh lansia.

Menjaga berat badan ideal.

Mengontrol kadar gula darah pada pasien diabetes.

  1. Terapi Farmakologis
     

Jika perubahan gaya hidup belum cukup mengatasi gejala, dokter biasanya akan memberikan terapi obat untuk mengurangi produksi asam lambung dan memperbaiki fungsi saluran pencernaan. Beberapa obat yang umum digunakan antara lain:

Proton pump inhibitors (PPI) untuk menurunkan produksi asam lambung.

Potassium-competitive acid blocker (P-CAB) yang bekerja menghambat sekresi asam lambung.

Obat prokinetik yang membantu memperbaiki motilitas saluran cerna sekaligus mempercepat pengosongan lambung.

  1. Terapi Bedah
     

Pada beberapa kasus, terutama jika gejala tidak membaik dengan pengobatan obat atau terjadi komplikasi, dokter dapat mempertimbangkan tindakan bedah. Salah satu prosedur yang sering dilakukan adalah laparoscopic fundoplication, yaitu operasi yang bertujuan memperkuat katup antara lambung dan esofagus sehingga refluks asam dapat dicegah.

  1. Terapi Endoskopik
     

Selain operasi, terdapat juga prosedur minimal invasif yang dapat dilakukan melalui endoskopi untuk membantu mengatasi GERD. Metode ini dapat menjadi pilihan bagi pasien yang tidak merespons terapi obat tetapi ingin menghindari operasi besar. Beberapa teknik yang digunakan antara lain:

Radiofrequency therapy, yaitu terapi yang menggunakan energi radiofrekuensi untuk memperkuat jaringan di sekitar katup esofagus.

Transoral Incisionless Fundoplication (TIF), yaitu prosedur yang membentuk kembali katup esofagus tanpa sayatan.

Demikian penjelasan mengenai GERD pada lansia, mulai dari penyebab, gejala, faktor risiko, hingga cara diagnosis dan pengobatannya. Namun, penting untuk dipahami bahwa informasi di atas hanya bersifat edukatif sehingga tidak dapat menggantikan diagnosis maupun saran perawatan dari dokter secara langsung. ( www.siloamhospitals.com )

Loading ...
Scroll to Top