AWAL RADIO MENYIARKAN PIALA DUNIA

RADIOPENSIUNAN.COM


Oleh: Eddy Koko

​Sepak bola dan media penyiaran hari ini adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kita bisa menyaksikan setiap pergerakan pemain, kerutan wajah pelatih, hingga tayangan ulang dari berbagai sudut dalam kualitas dimensi tinggi (HD).

Namun, jauh sebelum layar kaca dan gawai menguasai dunia, ada masa di mana emosi jutaan orang digerakkan hanya oleh sebuah kotak kayu yang mengeluarkan suara. Lewat pesawat radio jutaan orang dapat mengikuti jalannya pertandingan olah raga termasuk sepak bola.

Meskipun, dalam catatan, Radio BBC Inggris untuk pertama kali menyiarkan pertandingan sepak bola (Arsenal vs Sheffield United) pada Januari 1927 tetapi Piala Dunia baru disiarkan tujuh tahun kemudian.Momen magis itu terjadi pertama kali di panggung tertinggi sepak bola Piala Dunia FIFA tahun 1934 di Italia.

​Pada Piala Dunia pertama tahun 1930 di Uruguay, teknologi penyiaran internasional masih sangat terbatas. Publik di luar Amerika Selatan hanya bisa memantau hasil pertandingan melalui telegram atau berita di surat kabar yang terbit keesokan harinya. Empat tahun kemudian, tepatnya bulan Mei-Juni tahun 1934, siaran radio mulai dilibatkan dan ini menjadi tonggak sejarah teknologi radio digunakan secara masif untuk menyiarkan pertandingan sepak bola Piala Dunia secara langsung (live).

Boleh jadi, karena pernah jadi wartawan sehingga Perdana Menteri Italia ketika itu, Benito Mussolini, menyadari betul liputan pertandingan sepak bola dapat menjadi kekuatan propaganda. Sang diktaktor ini kemudian memerintahkan pertandingan Piala Dunia di negaranya disiarkan langsung melalui radio siaran. Siapa berani menolak?

Dari stasiun radio di Itali, siaran langsung Piala Dunia tidak hanya bergema di dalam negeri, tetapi ditransmisikan secara internasional. Sebanyak 12 dari 16 negara peserta yang bertanding kala itu berhasil menangkap gelombang siaran langsung siaran Piala Dunia, membawa atmosfer ketegangan stadion di Roma, Milan, dan Florence langsung ke ruang tamu rumah-rumah di Eropa.

Media televisi sudah ada tahun 1928 dan tahun 1934 itu Telefunken Jerman juga sudah memproduksi pesawat televisi. Tetapi baru dua puluh tahun kemudian televisi menyiarkan pertandingan Piala Dunia tahun 1954 di Swiss.

​Lewat siaran langsung pertandingan sepak bola Piala Dunia melalui radio kemudian muncul budaya “Mendengar Bareng”, sekarang jadi nonton bareng atau Nobar. Saat perangkat radio masih tergolong barang mewah dan belum dimiliki setiap rumah, masyarakat kota berkumpul di suatu tempat, rumah, aula atau menyemut di depan toko elektronik yang menyalakan radio keras-keras.

​Tanpa visual, publik sepenuhnya bergantung pada intonasi, dinamika suara, dan deskripsi kata-kata dari komentator atau penyiar. Ketika suara penyiar meninggi dan temponya semakin cepat, detak jantung pendengar ikut berpacu. Frasa seperti “Ia menggiring bola… mendekati kotak penalti… menembak dan!…goolllllll” menciptakan imajinasi kolektif yang luar biasa dramatis di benak pendengar. Inilah yang disebut “theatre of mind” (bioskop dalam kepala) yang merupakan karakter radio siaran.

Untuk membantu publik membayangkan jalannya pertandingan, beberapa surat kabar atau majalah menerbitkan peta lapangan sepak bola yang dibagi menjadi kotak-kotak bernomor. Penyiar yang bertugas menyebutkan nomor kotak tempat bola berada, sehingga pendengar di rumah bisa memindahkan pandangan imajiner mereka di atas kertas.

​Jasa Besar Radio di Dunia Olahraga

Siaran langsung radio dalam olah raga, sebetulnya, bukan pada Piala Dunia tetapi dalam pertandingan tinju 11 April 1921 dilakukan oleh Radio KDKA di Pittsburgh, AS. KDKA (nama dari kode maritim) Pittsburgh merupakan stasiun radio AM legendaris Amerika Serikat, mengudara pada 2 November 1920 dan berbasis di Pittsburgh, Pennsylvania. Siaran perdana Radio KDKA tercatat cukup bersejarah karena menyiarkan secara langsung hasil pemilihan Presiden Amerika Serikat antara Warren G. Harding (Republic) melawan James M. Cox (Democrat) 2 November 1920.

​Penemuan radio transistor portabel mengubah segalanya. Orang-orang bisa membawa radio ke mana saja, seperti ke pantai, tempat kerja, hingga ke dalam stadion itu sendiri. Piala Dunia 1966 di England menjadi salah satu puncak nostalgia, di mana jutaan manusia, melalui radio, “melihat” Bobby Charlton menjulang trofi murni. Theatre of mind muncul lewat narasi lisan sang komentator di balik desiran frekuensi AM/FM.

​Kehadiran radio tidak sekadar menjadi alat penyampai informasi, melainkan fondasi utama yang mengubah olahraga dari sekadar permainan lokal menjadi industri hiburan global. Jasa besar radio siaran dalam olahraga dapat ditelusuri dalam perjalanan panjang media radio dari muncul sampai sekarang.

​Sebelum ada radio, untuk menikmati olahraga, orang harus membeli tiket dan datang langsung ke stadion. Radio mendobrak batasan tersebut. Jasa terbesar radio adalah memberikan akses gratis kepada siapa saja, kaya maupun miskin, masyarakat perkotaan hingga pelosok desa, untuk merasakan gairah pertandingan yang sama secara nyata. Bahkan hingga hari ini, radio tetap menjadi media paling ramah dan inklusif bagi teman-teman disabilitas netra untuk menikmati olahraga.

​Radio menuntut lahirnya seni baru dalam berbicara, sebut saja penyiar atau komentator olahraga. Seorang komentator radio dituntut tidak hanya paham taktik, tetapi juga harus menjadi “mata” bagi pendengarnya. Mereka harus mahir merangkai kata secara tepat dan cepat, membangun ketegangan, dan mentransfer emosi stadion lewat mikrofon. Tokoh-tokoh legendaris penyiaran lahir dari rahim radio dan menetapkan standar bagaimana sebuah pertandingan olahraga dinarasikan.

​Radio juga berhasil membangun ikatan emosional yang mendalam antara tim dengan penggemarnya. Melalui suara yang intim, radio menyatukan jutaan orang dalam satu frekuensi perasaan. Ketika tim nasional bertanding radio berperan besar memicu rasa nasionalisme kolektif karena seluruh negeri bisa bersorak pada detik yang sama saat gol tercipta.

​Suksesnya siaran olahraga di radio membuktikan kepada para pebisnis bahwa olahraga memiliki basis massa sangat besar dan loyal. Hal ini memicu perusahaan-perusahaan besar untuk mulai membeli slot iklan di tengah-tengah siaran radio olahraga. Inilah titik awal dari konsep hak siar (broadcasting rights) dan sponsor yang kini bernilai miliaran dolar dalam industri olahraga modern.

​Jadi, meskipun televisi dan live streaming internet sekarang mendominasi, tetapi radio tidak pernah mati. Sifatnya yang fleksibel, bisa didengarkan sambil mengemudi mobil, bekerja di bengkel, atau saat terjebak macet, membuat suara penyiar radio tetap memiliki tempat spesial di hati para pencinta olahraga di seluruh dunia.

Radio Tak Pernah Pensiun!***

Loading ...
Scroll to Top