ASAL USUL MIE, DARI TIONGKOK SAMPAI MANGKOK PENSIUNAN

Hanya ilsutrasi semankok Mie di Studio. Aslinya nggak boleh ada makanan & minuman masuk studio

Oleh: Kang Usil

JIKA Bung Karno punya proyek mercusuar untuk menandingi imperialisme, dan Bung Hatta sibuk merumuskan koperasi demi perut rakyat banyak, maka saya, sebagai pengamat jalanan yang kerjanya mangkal di warung pojok, sering merenung di bawah pohon rindang. Yaitu betapa remeh-temeh tapi agung urusan perut manusia bumi ini. Dan di antara sekian banyak benda yang bisa dimasukkan ke kerongkongan, tidak ada yang lebih merakyat, lebih lintas dekade, dan lebih disyukuri umat manusia selain sehelai garis kenyamanan bernama: Mie.

Di Radio Pensiunan, dalam acara ASAL USUL, sebuah perbincangan santai antara Mas Agus Awo dan Mbak Ami Harsono, mie dibedah bukan dengan pisau bedah rumah sakit, melainkan dengan pisau nostalgia. Konon, menurut catatan sejarah yang berdebu, mie ini barang impor dari dataran Tiongkok. Masuk ke Nusantara lewat jalur laut, dibawa oleh para pedagang yang barangkali niat awalnya mau dagang sutra, tapi nyasar ke dapur-dapur kita.

Hebatnya orang kita itu bukan pada kepandaian meniru, melainkan pada keahliannya “men-domestifikasi”. Istilah kerennya naturalisasi, tapi khusus untuk urusan lidah. Sepak bola kita naturalisasi pemain asing supaya bisa masuk piala dunia, tapi kalau mie? Wah, itu lain cerita. Mie dari negeri seberang mendarat di bumi Nusantara, lalu disambut dengan rempah-rempah yang bikin rempah-rempah dunia iri.

Bayangkan saja. Di tangan tukang masak kita, mie yang tadinya polos di Tiongkok sana, begitu sampai di Aceh berubah jadi garang dengan cabai dan rempah setebal kumis sersan. Sampai di Wonosobo, dia bertransformasi menjadi mie ongklok yang lengket-lengket sopan dengan aci. Di Bogor jadi soto mie, di Bandung jadi mie kocok, dan di Makassar dipanggil “Mie Titi” padahal isinya kering kriuk-kriuk. Itulah kebudayaan kita: ramah menerima tamu, tapi begitu tamunya masuk dapur, langsung kita pakaikan kain sarung dan kita beri sambal terasi. Tamunya pun lupa jalan pulang ke negeri asal.

Tapi cerita mie tidak berhenti di situ, kawan-kawan Sahabat Radio Pensiunan. Roda sejarah berputar persis seperti gilingan pabrik tepung. Kalau dulu kita ini penonton setia yang dijejali barang impor, sekarang keadaannya sudah jungkir balik. Arus balik!

Hari ini, mie instan bikinan kita—dengan bumbu ajaib yang rasanya bikin lidah bergetar antara haru dan bahagia—sudah malang melintang di luar negeri. Dari benua Afrika hingga padang pasir Saudi Arabia. Konon, bule-bule di sana kalau sudah kenal mie instan rasa kari atau ayam bawang, langsung klepek-klepek. Yang dari Asia minta yang kuahnya kental dan pedas membara, sementara yang dari Eropa minta yang light, yang nggak bikin jantungan. Hebat, bukan? Bangsa kita yang sering dibilang negara berkembang ini, ternyata diam-diam sudah menjajah dunia lewat mangkok plastik dan bumbu sachet.

Tentu saja, jalan menuju perut internasional itu tidak selalu bebas hambatan. Kadang-kadang ada saja birokrat luar negeri yang protes soal zat inilah, higienitas itulah. Di sinilah saya berpikir, kalau menteri-menteri kita rajin blusukan, mestinya menteri perdagangan dan luar negeri juga ikut blusukan membawa mangkok mie panas ke meja perundingan. Itulah yang namanya Gastrodiplomasi. Berdiplomasi bukan pakai ancaman meriam atau nota diplomatik yang bikin ngantuk, melainkan pakai aroma kuah kaldu yang mengepul. Kalau perut sudah kenyang dan lidah sudah bergoyang, urusan politik biasanya gampang diatur.

Maka, mari kita angkat mangkok kita—atau cangkir teh bagi para pensiunan yang budiman. Mie bukan sekadar karbohidrat pengganti nasi di kala tanggal tua. Mie adalah bukti bahwa akulturasi budaya itu bisa lezat rasanya.

Hidup Mie Nusantara! Dan tentu saja, salam hangat untuk seluruh Sahabat Radio Pensiunan di mana pun anda berada. ***

Loading ...
Scroll to Top