Hari Penyiaran Nasional 1 April “RADIO, SUARA NAN TAK PERNAH PADAM”

Penyiar senior Olan Fatah dan Ellen Pratiwi di Studio 1 Radio Pensiunan

RADIOPENSIUNAN.COM

HARI ini, 1 April cocok insan radio mengucapkan Selamat Hari Penyiaran (Radio) Nasional. Meskipun ada berita memprihatinkan, Radio Wijang Songko 99 FM di Kota Kediri, Jawa Timur memutuskan tidak lagi siaran per 1 April 2026. Stasiun radio bisa tutup tetapi media radio diyakini tetap ada.

Enam tahun lalu, 29 Maret 2019 Presiden Joko Widodo menandatangani Surat Keputusan No. 9 tentang Hari Penyiaran Nasional. Dalam kurun waktu tersebut perkembangan komunikasi dari analog kepada teknologi digital begitu pesat.

Radio merupakan media siaran yang mampu mengikuti zaman meskipun berkali diramal mati ketika muncul media televisi, pita rekaman kaset musik, CD, dan lainnya. Perubahan zaman atau teknologi bukan lonceng kematian untuk media siaran radio. Tutupnya studio radio lebih karena pemiliknya bosan atau tidak lagi mampu mengelola.

Dunia digital, di dalamnya ada internet, tidak membunuh masa depan dunia penyiaran. Internet justru menjadi sarana mengembangkan jangkauan siaran radio menjadi lebih luas termasuk konvergensi. Tidak ada batas wilayah siaran sehingga pendengar di dalam maupun luar negeri terjangkau meskipun siaran dari studio di desa.

Hari ini, orang semakin akrab dengan smartphone dan internet. Ini merupakan peluang stasiun radio siaran menjangkau wilayah lebih luas. Stasiun radio berbasis frekuensi juga menambahkan aplikasi siaran di smartphone. Semuanya mempermudah pendengar di berbagai wilayah menikmati siaran radio.

Sebagai contoh, Radio Pensiunan memanfaatkan penuh konsep radio internet sehingga jangkauannya lebih luas dan tetap jernih suaranya. Radio internet yang dimaksud bukan radio digital audio broadcasting (DAB) yang tetap menggunakan frekuensi.

Terus Berkembang

Keberadaan Radio Pensiunan dapat menjawab bahwa siaran radio akan terus berkembang mengikuti zaman. Cara menikmatinya berbeda, tidak lagi melalui radio transistor tetapi menggunakan smartphone atau laptop dan sekarang muncul pesawat radio internet.  

Pada banyak pendengar, khususnya mereka yang sudah pensiun, radio tetap merupakan teman dikala senggang. Untuk yang masih bekerja juga menjadi teman menyelesaikan pekerjaan. Karena radio internet mampu memperluas jangkauan membuat pendengar sedang di luar negeri tetap bisa mendengarkan siaran radio kesayangannya di dalam negeri. Kualitas suara siaran tetap jernih.

Sejatinya, radio bukan sekadar kotak suara elektronik. Ia adalah sahabat setia yang merawat kenangan dan menyajikan “bioskop di kepala” setiap pendengarnya (theatre of mind). Itu tidak bisa direplikasi oleh media visual mana pun. Tetapi harus diakui, di balik nilai romantisme, memang, industri penyiaran di seluruh dunia sedang mengalami evolusi besar-besaran.

Sepintas  radio seperti alat sederhana. Tetapi sudah satu abad faktanya radio menjadi salah satu alat paling ampuh untuk menyatukan orang. Baik lewat siaran berita terkini, musik populer, atau kisah komunitas, radio menciptakan pengalaman publik bersama yang sulit ditiru oleh platform digital lainnya.

Patrick Jonathans, dari Radio Suara Surabaya berkunjung ke Radio Pensiunan

Radio Perjuangan & Perjuangan Radio

Menarik jika membaca sejarah keberadaan radio siaran di Indonesia terkait perannya sebagai radio perjuangan dari masa penjajahan sampai proklamasi dan kemudian makmur di zaman merdeka. Ketika itu, di tengah dominasi informasi pemerintah kolonial Hindia Belanda, SRV hadir sebagai lembaga penyiaran radio pertama yang sepenuhnya didirikan, dimiliki, dan dioperasikan oleh kaum Bumiputera. Lewat gelombang udara, SRV menyiarkan kebudayaan lokal dan diam-diam menyemai kesadaran nasional. Radio, pada masa itu, adalah alat perjuangan dan pemersatu bangsa.

Radio siaran, khususnya radio siaran swasta, di Indonesia berjaya pada zaman merdeka, antara tahun 70an sampai memasuki dekade 2000an. Setelah serangan covid 19 tahun 2020, sejumlah pengelola stasiun radio, mengaku,  harus berjuang menghidupkan siarannya. Disrupsi di dunia industri siaran radio tengah terjadi dengan sangat cepat. Kondisi ini menuntut banyak pengelola radio harus berpikir keras melakukan kreatifitas.

Wajah radio era digital dapat dikatakan berubah drastis. Batas-batas geografis yang dahulu ditentukan seberapa tinggi tiang pemancar FM/AM kini telah runtuh oleh konektivitas internet. Di berbagai belahan dunia, disrupsi ini mengambil bentuk yang unik, baik di Eropa, Amerika Serikat maupun Asia.

Eropa diketahui begitu agresif dalam melakukan digitalisasi radio. Negara seperti Norwegia sudah mematikan sepenuhnya siaran FM-nya beralih ke radio digital (DAB) serta streaming internet. Negara seperti Inggris dan Jerman dikabarkan, mendengarkan radio kini sangat didominasi oleh perangkat smart speaker (seperti dilengkapi kecerdasan buatan), pengguna  cukup mengucapkan perintah untuk mendapatkan siaran radio dari seluruh penjuru benua.

Konsep layar sentuh yang langsung terhubung dengan stasiun radio dunia sudah merupakan hal biasa. Termasuk aplikasi Radio Pensiunan yang dapat diunduh melalui PlayStore maupun AppStore untuk mendengarkan siarannya. Jika di mobil bisa disambungkan melalui bluetooth ke radio fasilitas kendaraan tersebut. Podcast dikabarkan menjadi pilihan warga di AS untuk mendengarkan acara radio yang tidak sempat menyimak siaran secara langsung. Ini juga menguntungkan bagi pengelola radio siaran di Indonesia tetap menyimpan rekaman siarannya di podcast sehingga bisa didengar pendengar sewaktu-waktu. Kesetiaan pendengar tetap terjalin.

Dunia radio siaran di kawasan Asia, termasuk Indonesia, perkembangan radio tidak hanya soal suara. Banyak stasiun radio yang sukses beradaptasi dengan menerapkan Visual Radio, menyiarkan suasana keseruan penyiar di studio secara langsung melalui YouTube, TikTok, atau aplikasi streaming lokal. Radio di Asia menjadi sangat interaktif, menyatukan audio dengan pengalaman media sosial. Konsep ini sudah umum bahkan stasiun radio di daerah penyiarnya bersiaran sambil live TikTok.

Sejarah Hari Penyiaran

Tanggal 1 April dipilih sebagai Hari Penyiaran Nasional berangkat dari sejarah tahun 1933 ketika K.G.P.A.A. Mangkunegara VII memprakarsai berdirinya Solosche Radio Vereeniging (SRV). Mangkunegaran VII adalah Kakek buyut Gusti Brhe yang sekarang memimpin Pura Mangkunegaran Solo dan bergelar KGPAA Mangkunegara X.

Karena berdasarkan Keputusan Presiden maka tanggal 1 April bersifat nasional sebagai hari penyiaran. Jika sejarahnya dari SRV maka penyiaran nasional ini identik dengan radio siaran. Bisa diartikan, Hari Penyiaran Nasional adalah Hari Radio Nasional.

Hari Penyiaran Nasional berbeda dengan Hari Ulang Tahun Radio Republik Indonesia (RRl) pada tanggal 11 September. RRI lahir setelah kemerdekaan Indonesia diprakarsai sejumlah tokoh radio, termasuk Abdulrahman Saleh, mengadakan pertemuan di Jakarta dan memutuskan membentuk Radio Republik Indonesia (RRI) pada tanggal 11 September 1945.

Sosok Abdulrachman Saleh kemudian disebut sebagai Bapak Radio Indonesia. Ia dikenal seorang dokter yang memimpin perebutkan radio siaran yang dikuasai Jepang dan mengubahnya menjadi Radio Indonesia Merdeka dengan semboyan Sekali di udara tetap di udara. Abdulrachman gugur saat bertugas sebagai pilot pesawat tempur pada 29 Juli 1947.

Menolak Padam

Bentuk fisik pesawat radio yang medium ini tampaknya terus bertransformasi. Dari kotak kayu bertenaga tabung pemancar di era Mangkunegara VII, radio transistor portabel Cawang sejuta umat, hingga aplikasi digital bersuara jernih di layar ponsel pintar termasuk pesawat penerima radio internet terjadi hari ini. Meskipun ada perubahan tetapi esensi radio akan selalu abadi. Radio bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan media yang tangguh dan adaptif.

Radio akan terus bertahan karena ia menawarkan keintiman yang langka di dunia modern. Ia adalah suara hangat yang tak pernah menghakimi, kawan yang setia mengusir sepi, dan medium yang paling tangguh beradaptasi dengan zaman.

Hari ini, kita rayakan bersama suara-suara yang menolak padam di udara.

Selamat Hari Penyiaran Nasional !

  • Eddy Koko (praktisi radio siaran)
Loading ...
Scroll to Top