
Oleh: Eddy Koko – (Penikmat Musik Jazz)
DULU, menulis artikel mengulas musik jazz di media cetak, era sebelum dekade 2000-an, itu punya cerita beda. Di tengah gemuruh musik pop dan rock artikel berita dan ulasannya pun marak di koran dan majalah. Maka mengkhususkan diri, menulis tentang musik jazz menjadi pilihan yang cukup sunyi. Mbah Google dan media sosial belum ada. Mesin pencari Yahoo belum semarak. Jadi, pengetahuan tentang jazz tidak bisa didapatkan cuma-cuma dengan sekali klik.
Semuanya butuh proses dan ketekunan. Perlu mendengar, menonton dan membaca sampai diskusi dengan musisi jazz. Mendengar musik jazz bisa lewat album kaset rekaman, menonton bisa bayar tiket, diskusi bisa duduk dengan musisi seperti Bill Saragih, Bubi Chen, Benny Likumahuwa, Ireng Maulana, Idang Rasjidi dan masih banyak lainnya. Tapi mencari literatur atau data tentang musik jazz bukan perkara gampang. Pendeknya, buat saya, perlu strategi, bukan murah dan tidak mudah.
Masih ingat, salah satu cara adalah mengais data & info dari liner notes di sampul piringan hitam import atau sampul kaset terbitan Fantasy Records, Capitol dan lainnya. Perlu beli majalah jazz Down Beat yang terbit setiap bulan tapi sampai Indonesia bisa lebih sebulan. Itu pun rebutan. Pengelola toko buku di Jalan Melawai, Jakarta Selatan yang memasok majalah-majalah terbitan luar negeri tidak mau dibayar duluan. Juga tidak berani menjanjikan. Karena memang tidak tau kapan datang dan belum pasti datang juga.
“Kamu datang aja nanti dua minggu lagi. Saya tidak berani simpanin. Yang nunggu juga banyak. Kami tidak stock banyak karena kadang juga berbulan tidak laku,” kata penjaga toko buku pada medio tahun 90an. Lupa nama tokonya. Seminggu sekali perlu mampir siapa tau sudah datang. Tapi sering juga keduluan pembeli lain. Sepertinya hanya mengimport tiga eksemplar.
Pada era tahun 90an, bersama Ivan Nestorman dan almarhum Michael Ferdin kami diskusi untuk menulis topik apa, pekan ini? Dulu Ivan Perjuangan sekarang Ivan Kemenangan. Kadang Ivan tidak datang ke redaksi karena tampil di kedai musik di Jakarta dan Bandung, termasuk Jamz bersama Candika Band pimpinan Rio Moreno. Sekarang, Ivan sudah sukses dengan bayaran puluhan juta sekali manggung. Dulu, kami mengelola rubrik musik jazz di Mingguan Koran Jayakarta sering sampai dini hari jika deadline cetak.
Selain berusaha mendapatkan Majalah Down Beat saya juga membeli buku Dictionary of Jazz terbitan Oxford. Awalnya pinjam buku tersebut milik Lodhy Surya, produser rekaman album-album jazz yang mendapat izin dari Fantasy Record, AS. Waktu Lodhy beli tahun 1992 harganya dua juta rupiah tapi masih dua jilid. Saat saya beli beberapa tahun kemudian sudah berkembaang menjadi tiga jilid dan harganya menjadi tiga juta rupiah. Mahal tapi butuh.
Buku tebal Dictionary of Jazz adalah tentang dunia jazz dari sejarah sampai musisi legendaris termasuk festival dan sebagainya. Biografi singkat musisi jazz berikut album atau lagu ciptaanya ada dalam buku ini. Ini buku pegangan, sangat membantu orang yang ingin mengenal dan menulis seputar dunia jazz.
“Beli, Broer. Untuk investasi,” kata Lodhy Surya ngompori. Kami tidak pernah membayangkan suatu hari akan semudah sekarang mendapatkan data dan informasi. Buku Dictionary of Jazz dan berbagai buku jazz lainnya tetap tersimpan di rak buku meskipun semua data itu sekarang mudah ditemukan di internet. Sesekali saya buka untuk mengenang masa lalu ketika menulis musik jazz.

Menulis Jazz Sekarang
Pengalaman, memahami jazz tidak cukup hanya mendengar dan membaca artikel jazz. Datang, nongkrongin musisi main musik jazz dan merasakan auranya sangatlah penting. Mulai dari menikmati riuhnya festival, seperti Jakjazz, bergerilya dari satu kedai jazz ke kedai jazz lainnya di Jakarta dan Bandung, sampai ajang internasional seperti North Sea Jazz Festival.
Dari panggung ke panggung mencermati, bagaimana setiap musisi dan penyanyi punya gaya, rasa, dan karakter berbeda saat mengeksekusi improvisasi. Meskipun judul lagu yang dimainkan atau dinyanyikan mereka sama. Ini salah satu pengalaman empiris yang menjadi modal menulis ulasan musik jazz selama kurun waktu panjang.
Kini, jaman sudah berubah. Kehadiran mesin pencari dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadikan banyak informasi langsung tersaji dalam hitungan detik. Sayangnya, kemudahan ini justru melahirkan sebuah paradoks. Di saat data begitu melimpah, jurnalis atau penulis yang benar-benar mau turun ke lapangan untuk mencermati, belajar, dan merasakan musik secara langsung justru makin langka. Masih adakah yang rela duduk berjam-jam di kedai musik jazz untuk menulis ulasan jazz?
Konon, fenomena ini ternyata bukan cuma terjadi di Indonesia tetapi juga di luar negeri. Para pengamat media menyebutnya sebagai The Crisis of Music Journalism di tengah era Algorithmic Culture. Peran jurnalis musik sebagai penunjuk arah atau pembuka pintu pengetahuan kini pelan-pelan digantikan oleh algoritma platform streaming dan AI.
Penulis musik masa kini kian jarang berada di klub malam, studio, atau mewawancarai musisi secara mendalam. Kebanyakan tulisan yang beredar sekarang, terkesan, hanyalah olahan ulang dari rilis pers atau hasil rangkuman mesin pencari.
Tentu saja, kehadiran AI dan internet tidak semuanya buruk. Ada sisi terangnya juga. Penulis era sekarang sangat dimudahkan karena tidak perlu lagi mengalami kesulitan geografis atau finansial untuk berburu referensi fisik yang mahal. Data sejarah, diskografi, hingga asal-usul sampel lagu bisa dicek dalam hitungan detik. Proses menulis jadi lebih efisien. Juga siapa saja suka musik bisa langsung mempublikasikan pikirannya tanpa harus menunggu ‘izin’ dari industri media mainstream.
Tapi, di balik segala kepraktisan itu, ada harga mahal yang harus dibayar. Yaitu, hilangnya ruh dari tulisan musik itu sendiri.
Musik, khususnya jazz, sejatinya adalah kesenian yang hidup dari emosi, dinamika panggung, dan keintiman momen. AI mungkin pandai mengolah angka dan teks, tapi algoritma tidak akan pernah bisa merasakan indahnya jam session di kedai jazz yang remang-remang, atau bagaimana keringat dan emosi seorang musisi meluap di atas panggung live.
Jika penulis hanya mengandalkan rangkuman AI maka gaya tulisannya cenderung seragam dan kaku. Algoritma internet, biasanya, hanya memuat informasi yang sudah populer. Sehingga bakat-bakat unik di panggung lokal sering kali tidak terpantau jurnalis jazz.
Penulis yang malas mengecek ke lapangan juga rentan menelan mentah-mentah ketika AI salah menyajikan data. Dan paling menyedihkan, hubungan emosional serta ruang diskusi intim antara penulis, musisi, dan komunitas jazz perlahan-lahan ikut menguap.
Seharusnya, mesin pencari dan AI ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti mata, telinga, dan rasa seorang penulis musik. Pengetahuan murni yang lahir dari proses mendengarkan, melangkah ke ruang pertunjukan, bertukar pikiran dengan para pelaku sejarah tidak akan pernah bisa ditiru oleh algoritma mana pun.
Teknologi boleh saja membuat pencarian fakta jadi serba cepat. Tapi jurnalisme musik akan kehilangan jiwanya jika para penulisnya sendiri enggan turun ke lapangan untuk belajar, mencermati, dan merasakan sendiri daya hidup dari musik itu.
Surut Menulis Jazz
Tahun 2002 ketika saya bergabung dengan Radio Trijaya FM praktis berhenti menulis seputar musik jazz. Waktu lebih fokus pada pemberitaan juga talkshow seputar politik dan ekonomi. Ada program musik jazz di radio ini tetapi saya tidak ikutan mengelola.
Ketika Festival Java Jazz periode awal dimulai, tiba-tiba Pemred Koran Seputar Indonesia, Sururi Al Faruq, minta saya menulis kolom jazz selama enam hari berturut-turut. Saat itu mesin pencari juga belum sehebat sekarang. Honor yang ditawarkan lumayan menggoda maka saya menulis lagi.
Sejak 2014, saya menepi dari hiruk pikuk media tulis. Itu bersamaan dengan makin dahsyatnya kemampuan mesin pencari dan AI. Juga, orang tidak butuh lagi bertanya pada manusia lainnya karena AI lebih cepat dan “pandai”.
Dulu, saya pernah rutin menulis artikel musik jazz. Sekarang, memang, sudah “pensiun” dari media tulis. Itu, bersamaan dengan perubahan zaman. Sesekali menulis jazz jika ada permintaan tetapi ngoceh jazz rutin di Radio Pensiunan.
Jazz itu mirip kehidupan manusia. Ada masa bayi yang diibaratkan sebagai intro dalam musik jazz, kemudian menjalani kehidupan atau improvisasi dan wafat alias coda. Sering sesama musisi jazz, jika mendengar kabar teman wafat, kemudian meneruskan, “Si Anu coda.“
Kini, saatnya, menikmati lagu standard On the Sunny Side of the Street (Jimmy McHugh / Dorothy Fields) dalam irama jazz.***